tumplak tumbler!

bunyi gendang.

pada nyatanya saya tak ayal sejumput daun kering yang jatuh di comberan, terombang ambing air diantaranya sampah, maka biarlah, biar sejenak ku berbaring memandang angkasa. entah kemana, tanpa gelisah..
— #pujanggaresah

Everything seems so far away,
Everything is going wrong you know…
Too many troubles, nothin’ but pain in your heart,
Almost hate things you love…

Oh, oh, let’s go find our way
Oh, oh, with our very weak broken hearts, still
Oh, oh, we must have pride not strength
Oh, oh, live with a positive mental attitude!

Complain and blamin’ someone else,
Do you know it’s gonna come back to you!
So many problems, so much hate in this world,
Who is gonna wake up first?

Oh, oh, let’s go find our way
Oh, oh, with our very weak broken hearts, still
Oh, oh, we must have pride not strength
Oh, oh, live with a positive mental attitude!

Now you know what to do
Look at me, don’t look down
Hold my hand, hold it tight!

Oh, oh, let’s go find our way
Oh, oh, with our very weak broken hearts, still
Oh, oh, we must have pride not strength
Oh, oh, live with a positive mental attitude!

Oh, oh, live with a positive mental attitude!
Oh, oh, live with a positive mental attitude! 

uh, i’m look like Justin Bieber on my decade, so i kill myself.
— Kurt Cobain

super duper december always come sooner.

sebuah satuan waktu itu bernama tahun, yang sebenarnya sekedar 12bulan atau 52minggu atau 365hari atau 8760Jam atau 525600menit atau 315336000detik, entah seberapa lama itu yang jelas terimakasih itu untuk orang jenius yang menetapkannya, untuk bumi yang tetep berotasi pada porosnya, dan matahari yang rela dikelilingi pada lintasannya sehingga memudahkan para jenius itu menghitung sebuah periode dan dikenal sebagai kalender bumi. Dan tanpa sadar saya yang sepertinya juga manusia telah menginjak dan dengan angkuh berdiri di akhir dari bulan pada tahun duaribu sembilan ini, oh, desember, kamu selalu super duper, dan kamu selalu come sooner.


aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember.

kata seseorang yang bernyanyi di sebuah speaker bersubwofer yang terletak di sebelah kanan saya, yang sebenarnya merupakan sepenggal lyric lagu sebuah band bernama Efek Rumah Kaca seakan terasa dalam artian sebenarnya didiri saya, ya, saya selalu suka bulan ini, bulan desember, tentu dengan awan yang menyapa bumi dengan hujannya di sore hari. dramatisir memang, atau sekedar lagu yang mensuggesti diri. tapi segelas kopi di sore itu tidak bisa berbohong untuk bergabung menikmati desember kala hujan sore hari ini. dan mengetahui kita masih menghela udara diakhir bulan dari tahun ini. rasakan.

dan dialah si bulan dengan kemampuan rahasia sebagai bulan yang merupakan transmisi suatu tahun ke tahun yang baru, saat yang paling tepat untuk sedikit melihat ke belakang, benarkah? setidaknya ini menjadi saat yang tepat mengakses kaleodoskop diri saya yang diantaranya tersimpan segala suka disela-sela duka, cinta ditimbunan dusta, tawa dikerumunan air mata. oh dunia, diantara maya dan nyata semua terjadi dibelakang kita. tapi tidak itu membuat saya tenggelam dalam romantika masa lalu, hanya sebagai melihat kehidupan dibelakang yang apa orang2 menyebut itu introspeksi, atau secara sarkasmenya: melihat kebodohan diri. maksudnya sih agar si kebodohan itu tidak terulang lagi. ya, mari sejenak memanggil kembali si januari hingga si desember dalam memori sekarang ini lalu memasang kembali puzzle2 kebodohan dalam ingatan sebagai sebuah kesimpulan. lalu setelah itu? tentunya jadikan puzzle kebodohan itu sebagai pijakan saat nanti kita melihat ke depan.

namun jangan terlalu lama, karena masa yang sudah berlalu akan bekerja seperti pasir hisap jika kita larut dan terus menatap kesana, cukup sedikit lihat kaca spion lalu tancap gas dan lalui halangan perlahan, kata temen saya yang seorang pembalap jalanan. sebuah resolusi tahunan yang tertuliskan atau hanya dalam angan, nampaknya itu cukup sebagai bahan bakar.
motivasi alami dalam diri, jika kata seorang teman saya lagi yang bertindak semacam psikolog pribadi. saatnya membutuhkan ke-keras-kepala-an untuk bertindak mencapai realisasi.
ada pula yang berkata untuk tidak perlu melakukan semua ini, biarkanlah semua berjalan “go with the flow” mengalir seperti sekumpulan tai, satu lagi kata seorang teman saya yang akan di eksekusi mati.
entahlahlah, hanya orang gila yang mengaku berfilosofi. dan yang satu ini kata saya sendiri.

Dan si super desember yang selalu datang lebih awal ini, semacam membuka mata saat kita terlena pada bulan-bulan sebelumnya, dan lalu tanpa sadar kita telah kembali dihadapan dengan desember-desember lainnya. Sebuah fenomena yang sbenarnya tidak di inginkan manusia dalam menikmati sisa hidupnya. Namun beda hal, si desember menjelma menjadi semacam simbolisasi penantian bagi orang-orang yang memiliki cita-cita. Orang-orang yang tahu bagaimana menjejaki waktu dengan bijaksana. Ugh Sayangnya orang itu bukan saya.

Dibaliknya semua masalah yang tak ada habisnya ini adalah tentang si waktu. Dan sebenarnya ada semacam salah kaprah mendasar namun sangat manusiawi bagi seorang individu, adalah sebagai manusia yang melihat si waktu mengalir berlalu. Dan sialnya, si waktu sebenarnya memang tidak pernah berjalan, bergulir ataupun berlalu. Dia adalah sebuah konstanta statis, ketetapan yang diam. Hanya kitalah si individu yang dengan lancang menjejaki si waktu dan kita di atasnya mengalir berlalu.
Bukan salah semesta yang bertindak sebagai ruang hanya menegur kitadengan caranya. Kitalah individu yang terlalu lengah atau sebenarnya terlalu sombong untuk menyadarinya. Kita terlalu naïf menyalahkan waktu untuk segala yang terjadi dengan kita.
Oh sungguh maafkanlah hey waktu saya kadangsuka menyalahkan si kamu, dan terimakasih untuk memberi pilihan sia-sia atau tidaknya kita melaluimu, juga terimakasih telah kembali mempertemukan saya dengan si desember yang menjadi bagian dirimu.

November Rain - Guns N’ Roses

HELL-O-WIN ? why so serious ?

HELL-O-WIN ? why so serious ?

60 Plays
Fall Out Boy
Tell That Mick He Just Made My List of Things to Do Today

jamban.

ini adalah ketika nafas begitu saru dengan deru jantung, gelak tawa tak lagi terdengar, hanya umpatan kata hina yang otomatis terucap. bukan pula bulir jagung, ini hanyalah keringat pertama yang menetes tertiup angin yang menjadi sedingin puncak jayawijaya. saat ini, bahkan ku takpeduli lagi dengan semua manusia, maupun jin, bahkan alien yang mendeklarasikan perang terhadap dunia. muka kalian semua rata, seakan mencemooh ku senang tanpa kata. saat ini hukum relativitas einstein tak lagi menemui pembenaran, apapula artinya fruktuasi rupiah terhadap dolar. ku tak peduli komunisme atau rezim otoriter kembali menguasai negara, biarkan saja budaya bangsa dicuri bangsa yang katanya saudara. ataupun semua film dan grup musik korea, juga dua orang teteh yang kondang karena video lipsync-nya di dunia maya. kepedulianku terhadap dunia lenyap menuju entah, segala argumen layaknya muntah, dan semua teori ku bantah. karena semua kemampuan analisis dan daya kreatifitas ku kini hanya tertuju oleh satu.

oh, aku hanya berharap berada pada senja diatas kasur saat gerimis yang ditemani secangkir kopi manis. dimana disaat ku begitu mudahnya mencari mu, tak seperti saat ini, saat ini aku yang bergerak dengan akselerasi penuh tak tahu dikejar siapa. atau mungkin aku tahu, ya aku tahu kalau aku sebenarnya dikejar oleh usus ku sendiri, usus yang membawa sisa-sisa dari sistem pencernaan. hanya otot-otot unus lah jurus terakhirku untuk menahannya, sementara aku yang dengan raut muka yang tak terdefinisikan, bergerak bermanuver mencari kamu, kamu yang sesuatu bernama jamban. ya kamu hanyalah jamban, dan sayangnya aku sendang di tengah sarana publik penuh keramaian, berjalan, berjalan, berlari, celingukan..

oh jamban..

oooooohhhhhhhhhhhhhhhh….aku hanya ingin buang air besar!!!